Teruntuk Simpanan Suamiku
Dimana pun Kau Berada.
Selamat malam….
Pertama-tama saya mohon maaf dengan sangat terpaksa surat ini
akhirnya ada dipangkuanmu, dan semoga suamiku tidak sedang berada diperaduanmu
saat ini.
Selanjutnya ijinkan saya memanggilmu Ade, karena kuyakin engkau pastilah seorang
wanita yang jauh lebih muda dariku. Tolong jangan merasa kikuk, saya tidak akan
memarahi apalagi memakimu karena kuanggap engkau saat ini layaknya seorang
adik. Namun jangan pula Ade berpikiran dan merasa bahwa ku sedang meminta
simpati atau ingin membuatmu kasihan padaku, bukan… bukan itu, karena rasanya
sudah kebas hati ini merasakan tatapan demi tatapan simpati yang ditujukan pada
kami, padaku dan anak-anakku.
Kusadari memang tidak pantas sepenuhnya menyalahkan Ade atas apa yang terjadi pada
keluargaku, karena kusadari usiamu yang masih muda serta pengalaman
hidupmu yang masih belialah yang ku’yakini menjadi penyebab takluknya dirimu
dalam pelukan suamiku. Dan kuharapkan demikian adanya.
Namun apabila kenyataannya justru engkaulah yang dengan rela
menjadi simpanan suamiku, ini
semua tentunya salahku yang tak mampu menjaga nyala api cinta suamiku. Tetapi
Ade juga perlu tahu bahwa sebagai sesama wanita kita tidaklah berbeda dalam
pengharapan kasih dan sayang dari seorang pria yang kita cintai dan tentunya
Ade pun kuyakin dapat merasakan bagaimana rasa sakit yang ditorehkan oleh
seseorang yang kita cintai ketika dia mengkhianati rasa itu… ahhh, semoga saja
engkau paham.
Rasanya cukuplah keluh kesahku padamu, tapi jangan dulu kau remas
surat ini yah…. karena beri sedikit waktumu untuk membaca kisahku tentang pria
yang saat ini menjadikanmu istri simpanannya.
Suamiku dulu tidaklah seperti suamiku saat ini yang menjadi teman
diperaduanmu, dia tidaklah
se-dendy dan serapi saat ini, saat masa-masa lajangnya dulu jangankan pakaian
bermerk seperti saat ini, bahkan pakaian kesayangannya boleh dibilang termasuk
pakaian kumuh, selusuh wajah lelahnya saat harus bekerja menghidupi dirinya dan
membiayai kuliahnya. Namun entah apa yang ada dibenakku saat itu dengan segala
kekurangannya aku masih mau bersahabat hingga akhirnya jatuh hati padanya,
bahkan aku rela membangkang larangan orang tuaku untuk berhubungan dengannya.
Mungkin suamiku pernah cerita padamu, bahwa akhirnya kami kawin lari dan aku rela
meninggalkan segala hal yang kunikmati sedari kecil tanpa kekurangan dalam
buaian orang tua’ku karena kupercaya dan mencintainya, walau demikian aku tak
menyesal mengambil keputusan itu. Awal pernikahan kami jangankan bulan madu
dihotel berbintang, kasurpun kami tak punya hanya sehelai tikar beralaskan
selimut saja teman kami berpelukan dirumah kontrakan yang mungil itu. Walaupun
hidup kekurangan tapi aku tetap bangga akan kerja kerasnya, setiap tetes
keringatnya tak kusia-siakan, dalam keterbatasan serta kekurangan hidup kala
itu kami tetap menyatu dan berjuang bersama, kusemangati dia, kuberikan pelukan
hangat ketika rintangan menghadang, bukan sehari, bukan sebulan namun
bertahun-tahun lamanya.
Hingga akhirnya masa-masa sulit itu berakhir indah, kehidupan berubah dari kemelaratan menjadi
kemewahan, dan tadinya harapan kami kelimpahan yang hari ini adalah untuk
kebahagiaan buah hati kami kelak, tapi lihatlah sekarang semenjak setahun
belakangan ini suamiku yang menjadikanmu simpanannya itu seolah-olah lupa akan
kesusahan panjang yang sama-sama kami hadapi dahulu bagaikan hujan sehari yang
menghapuskan kering semusim….. ahhh, pedih rasanya ketika melihat buah hati
kami yang masih remaja harus rehabilitasi narkoba setahun ini, buruknya itu
semua secara tidak langsung merupakan salah kami, karena fokusku dan suamiku
hanya bertengkar dan bertengkar membahasmu “simpanannya”, sehingga
lalai memperhatikan pergaulan anak kami, padahal dulu anak-anak mungil inilah
api tujuan kebahagian kami.
Lalu, ijinkan kubertanya padamu Ade bagaimana jika dirimu yang
menjadi diriku? Apakah yang engkau
rasakan, sakit hatikah atau pasrahkah? Kuharap engkau dapat memahaminya sebagai
seorang wanita, dan kuharap seorang ibu kelak.
Namun jika dirimu tetap bertahan untuk menjadi simpanan Suamiku,
hal-hal berikut perlu rasaya dapat menjadi bahan pertimbangan bagimu De, agar
engkau nanti tidak kecewa dikemudian hari :
Pertama…………. Saham
mayoritas diperusahaan kami, rumah, mobil mewah dan beberapa apartement adalah
atas namaku dan anak-anakku, sehingga kuharap semoga ketika memutuskan hidup
bersama suamiku engkau dapat merasakan perjuangan yang sama sepertiku dulu,
semoga kau kuat yah De.
Kedua…………… Saat
ini kurasakan tubuhnya juga sudah tidak segagah dulu, bahkan perabotannya pun
tidak segarang waktu masih muda, semoga dia sanggup mengimbangi dirimu yang
masih muda yah De…… dan yang paling tidak kusukai adalah dengkurannya yang
seperti babi bunting karena perutnya yang buncit itu berlemak hingga kelehernya,
jadi kuharap kau dapat menikmati tubuhnya yang mulai menua itu yah De.
Ketiga…………. Terus
terang dulu setelah anak ketigaku lahir, suamiku sepakat memilih vasektomi
permanen, sehingga sampai kapanpun kemungkinan untuk memiliki anak kecil
bagimu, tapi kamu bisa adopsi kok atau berselingkuh dengan lelaki lain untuk
membuahimu…. semoga tidak yah De.
Dan yang terakhir tolong sampaikan padanya tidak masalah jika dia
benar-benar memilihmu menjadi pendamping sisa hidupnya, karena terus terang
kekasih lamaku yang saat ini berstatus Duda Mati sudah Stand By ……….. tinggal
call dan dia akan muncul disampingku.
Demikian terima kasih.
Tertanda, Istri dari Suami Yang Menjadikanmu Simpanannya…… Salam.
~o0o~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar