Selasa, 14 Mei 2013

Surat untuk Simpanan Suamiku


Teruntuk Simpanan Suamiku
Dimana pun Kau Berada.

Selamat malam….

Pertama-tama saya mohon maaf dengan sangat terpaksa surat ini akhirnya ada dipangkuanmu, dan semoga suamiku tidak sedang berada diperaduanmu saat ini.

Selanjutnya ijinkan saya memanggilmu Ade, karena kuyakin engkau pastilah seorang wanita yang jauh lebih muda dariku. Tolong jangan merasa kikuk, saya tidak akan memarahi apalagi memakimu karena kuanggap engkau saat ini layaknya seorang adik. Namun jangan pula Ade berpikiran dan merasa bahwa ku sedang meminta simpati atau ingin membuatmu kasihan padaku, bukan… bukan itu, karena rasanya sudah kebas hati ini merasakan tatapan demi tatapan simpati yang ditujukan pada kami, padaku dan anak-anakku.


Kusadari memang tidak pantas sepenuhnya menyalahkan Ade atas apa yang terjadi pada keluargaku, karena kusadari usiamu yang masih muda serta pengalaman hidupmu yang masih belialah yang ku’yakini menjadi penyebab takluknya dirimu dalam pelukan suamiku. Dan kuharapkan demikian adanya.

Namun apabila kenyataannya justru engkaulah yang dengan rela menjadi simpanan suamiku, ini semua tentunya salahku yang tak mampu menjaga nyala api cinta suamiku. Tetapi Ade juga perlu tahu bahwa sebagai sesama wanita kita tidaklah berbeda dalam pengharapan kasih dan sayang dari seorang pria yang kita cintai dan tentunya Ade pun kuyakin dapat merasakan bagaimana rasa sakit yang ditorehkan oleh seseorang yang kita cintai ketika dia mengkhianati rasa itu… ahhh, semoga saja engkau paham.

Rasanya cukuplah keluh kesahku padamu, tapi jangan dulu kau remas surat ini yah…. karena beri sedikit waktumu untuk membaca kisahku tentang pria yang saat ini menjadikanmu istri simpanannya.

Suamiku dulu tidaklah seperti suamiku saat ini yang menjadi teman diperaduanmu, dia tidaklah se-dendy dan serapi saat ini, saat masa-masa lajangnya dulu jangankan pakaian bermerk seperti saat ini, bahkan pakaian kesayangannya boleh dibilang termasuk pakaian kumuh, selusuh wajah lelahnya saat harus bekerja menghidupi dirinya dan membiayai kuliahnya. Namun entah apa yang ada dibenakku saat itu dengan segala kekurangannya aku masih mau bersahabat hingga akhirnya jatuh hati padanya, bahkan aku rela membangkang larangan orang tuaku untuk berhubungan dengannya.

Mungkin suamiku pernah cerita padamu, bahwa akhirnya kami kawin lari dan aku rela meninggalkan segala hal yang kunikmati sedari kecil tanpa kekurangan dalam buaian orang tua’ku karena kupercaya dan mencintainya, walau demikian aku tak menyesal mengambil keputusan itu. Awal pernikahan kami jangankan bulan madu dihotel berbintang, kasurpun kami tak punya hanya sehelai tikar beralaskan selimut saja teman kami berpelukan dirumah kontrakan yang mungil itu. Walaupun hidup kekurangan tapi aku tetap bangga akan kerja kerasnya, setiap tetes keringatnya tak kusia-siakan, dalam keterbatasan serta kekurangan hidup kala itu kami tetap menyatu dan berjuang bersama, kusemangati dia, kuberikan pelukan hangat ketika rintangan menghadang, bukan sehari, bukan sebulan namun bertahun-tahun lamanya.

Hingga akhirnya masa-masa sulit itu berakhir indah, kehidupan berubah dari kemelaratan menjadi kemewahan, dan tadinya harapan kami kelimpahan yang hari ini adalah untuk kebahagiaan buah hati kami kelak, tapi lihatlah sekarang semenjak setahun belakangan ini suamiku yang menjadikanmu simpanannya itu seolah-olah lupa akan kesusahan panjang yang sama-sama kami hadapi dahulu bagaikan hujan sehari yang menghapuskan kering semusim….. ahhh, pedih rasanya ketika melihat buah hati kami yang masih remaja harus rehabilitasi narkoba setahun ini, buruknya itu semua secara tidak langsung merupakan salah kami, karena fokusku dan suamiku hanya bertengkar dan bertengkar membahasmu “simpanannya”, sehingga lalai memperhatikan pergaulan anak kami, padahal dulu anak-anak mungil inilah api tujuan kebahagian kami.

Lalu, ijinkan kubertanya padamu Ade bagaimana jika dirimu yang menjadi diriku? Apakah yang engkau rasakan, sakit hatikah atau pasrahkah? Kuharap engkau dapat memahaminya sebagai seorang wanita, dan kuharap seorang ibu kelak.

Namun jika dirimu tetap bertahan untuk menjadi simpanan Suamiku, hal-hal berikut perlu rasaya dapat menjadi bahan pertimbangan bagimu De, agar engkau nanti tidak kecewa dikemudian hari :

Pertama…………. Saham mayoritas diperusahaan kami, rumah, mobil mewah dan beberapa apartement adalah atas namaku dan anak-anakku, sehingga kuharap semoga ketika memutuskan hidup bersama suamiku engkau dapat merasakan perjuangan yang sama sepertiku dulu, semoga kau kuat yah De.

Kedua…………… Saat ini kurasakan tubuhnya juga sudah tidak segagah dulu, bahkan perabotannya pun tidak segarang waktu masih muda, semoga dia sanggup mengimbangi dirimu yang masih muda yah De…… dan yang paling tidak kusukai adalah dengkurannya yang seperti babi bunting karena perutnya yang buncit itu berlemak hingga kelehernya, jadi kuharap kau dapat menikmati tubuhnya yang mulai menua itu yah De.

Ketiga…………. Terus terang dulu setelah anak ketigaku lahir, suamiku sepakat memilih vasektomi permanen, sehingga sampai kapanpun kemungkinan untuk memiliki anak kecil bagimu, tapi kamu bisa adopsi kok atau berselingkuh dengan lelaki lain untuk membuahimu…. semoga tidak yah De.
Dan yang terakhir tolong sampaikan padanya tidak masalah jika dia benar-benar memilihmu menjadi pendamping sisa hidupnya, karena terus terang kekasih lamaku yang saat ini berstatus Duda Mati sudah Stand By ……….. tinggal call dan dia akan muncul disampingku.

Demikian terima kasih.
Tertanda, Istri dari Suami Yang Menjadikanmu Simpanannya…… Salam.

~o0o~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar