“Iya, sayang, boleh lima menit lagi ga ?”aku mencoba mengulur waktu sembari mengangkat lima jari sebagai tanda lima menit.
“No…!” suara Salma meninggi. Begitulah pagiku selalu datang seiring suara cempreng Salma, bidadari kecil yang selalu bangun di waktu selalu sama, lima pagi teng. Entah mengapa ia selalu bangun di waktu yang nyaris sama. Tentu ini baik, tapi tidak untukku, kadang aku butuh tidur lebih. Tapi tak ada kompromi, Salma akan membuatku terbangun, apapun caranya.
Salma, matahari pagiku. Bukan karena ia mampu menggantikan matahari untuk membangunkan tidurku tiap pagi. Lebih karena ia adalah alasan aku bangun tiap harinya.
Salma, suaranya melengking dan sangat berisik. Entah berapa oktaf nadanya kalau ia sudah berteriak. Bukan sekali dua tetangga mengeluh karena lengkingan suaranya di tiap pagi, ayampun mungkin malu oleh tingkah Salma yang selalu bangun sebelum kokok pertamanya.
Salma, di wajahnya melekat wajah bundanya, rambutnya keriting tipis dan mata dengan sorotan tajam. Hanya hidung dan dagunya yang sedikit meniru ayahnya, aku. Keceriaan selalu saja terpancar dari senyum lembutnya. Berlarian kesana kemari dan berujung pada pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat aku menyerah menjawabnya. “Ayah, ayah tahu kalau di dalam tanah itu ada matahari ?” “Ayah, ayah tahu kalau sungai-sungai itu ujungnya di kulkas ?” “Ayah, ayah tahu kalau kodok itu temannya tuhan ?” Pertanyaan-pertanyaan macam itulah yang meluncur, pertanyaan yang sama sekali aku tak bisa paham bagaimana bisa keluar dari kepalanya. Imajinasi ngawur, berantakan, absurd.
Belum genap tujuh tahun, tapi kegilaannya membuatku seolah mau meloncat dari jembatan Ampera di kota kelahiran Salma. Ya, Salma memang dilahirkan disana, meski kini kami tak lagi tinggal disana, kenangan tentang kota itu melekat rapat dalam diri kami. Sesekali Salma bertanya, “Kapan kita ke Palembang lagi, ayah ?” Entahlah Salma, mungkin tak akan pernah lagi.
***
Bayang-bayang senja mulai merekah, gerimis tipis awal Januari membuat rindu semakin menjadi. Ah, kalau saja Raiya masih ada, ah kalau saja kami tak pernah tinggal di kota itu, ah kalau saja kuikuti kehendak Raiya yang menolak pindah kesana. Pastilah petang dengan gerimis tipis ini menjadi begitu indah. Aku masih tak bisa berhenti mengutuki diri atas kepergian Raiya, istri dan sahabatku itu.
Salma belum genap satu tahun ketika bundanya pergi, terlalu cepat buatnya. Sejak kejadian di siang ke dua puluh tiga bulan keempat itu, aku mulai menjadi ayah sekaligus bunda buat Salma. Tak bisa menggantikan bundanya, tapi apa daya itulah yang harus kami terima.
Gerimis tipis awal Januari masih mengiris kenanganku. Enam bulan dari kejadian itu kuputuskan berhenti bekerja, Salma adalah hidupku, ia yang utama. Kupilih menjadi penulis lepas yang hasilnya kadang tak pas. Kehidupan kami berdua menjadi tak mudah, tapi waktu bersamalah yang utama. Keceriaan Salma tumbuh seiring waktu, raut-raut luka tak nampak lagi meski sekali-sekali ia masih bertanya. “Bunda, pasti bahagia kan di langit sana, yah ?”, aku hanya bisa mengangguk tiap kali pertanyaan itu datang.
Bunda memang bahagia disana Salma, tapi mengapa Salma tak pernah bertanya apakah ayah bahagia setelah bunda tiada, bisik hatiku.
“Ayah, ayah sudah masak kan ?” suara Salma membuat lamunanku berpendar.
“Kenapa sayang ? sudah lapar ya ?”
“Iya, Ama mau main piano tapi perut Ama lapar, ayah,” wajahnya mengerut sembari memegang perut. Ah, kalau ini sih sudah biasa aku hadapi, akting anakku satu ini memang luar biasa, batinku. Padahal baru tiga jam lalu bubur kacang hijau kami lahap, sudah lapar lagi dia.
“Oke deh, kita masak yuk ?”Suaraku lantang sembari memeluk bidadari kecilku yang paling bisa merayu ini.
“Horeeeee…Ama masaaaak,” suara lengkingnya membuat Ruto terkesiap. Kucing mungil itu berlari dan
menabrak kursi. Salma tertawa geli menyaksikan kucing kesayangannya pontang panting.
“Ayo tugas Ama bantuan ngupas bawang ya ?” Salma memang selalu terlibat dalam urusan dapur.
“Emang kita masak apa, yah ?”
“Enaknya masak apa ?”
“Ehmmmm apa ya ?”matanya ia main-mainkan sembari memandang Ruto, jari telunjuknya ia tempelkan ke dagu. Ah, gaya yang juga sama dengan gaya bundanya.
“Kita buat mi goreng aja yuk ?”
“Aah, ayah. Masak mi lagi,”protes Salma langsung datang.
“Ehmm, gimana kalau udang saus tiram ?”
“Nah…gitu dong yah”, senyum Salma terbentang mendengar ideku.
Memasak sesunguhnya bukan perkara mudah buatku, tapi enam tahun sejak Raiya pergi tak ada pilihan selain belajar memasak dengan seksama. Kini memasak menjadi sesuatu yang menyenangkan. Salma selalu membantu walau cuma mengupas bawang atau mengambilkan air di kran, atau hal-hal kecil lainnya. Salma tak akan beranjak dari dapur sebelum aku selesai memasak. Tak peduli apa yang sedang ditayangkan di teve.
“Ayah, Tuhan itu pintar masak gak sih yah ?” Tiba –tiba percakapan yang satu ini muncul lagi.
“Salma, udah berapa kali sih Ama nanya ini,” aku mulai menghindar untuk menjawab
“Iya ayah, Ama tahu. Tapi, ehm, ayah gak pernah jelas sih jawabnya. Ama kan bingung,” strateginya masih sama.
“Emang kenapa Ama nanya itu lagi ?” kucoba berlari dari pertanyaan.
“Ayah jawab dulu pertanyaan Ama, baru Ama jawab pertanyaan ayah,” ehm, anak ini cerdiknya luar biasa.
“Ama, Tuhan itu tidak sama seperti kita. Sang pencipta tentunya tak sama dengan yang diciptakan”, jawabku seadanya, merujuk agama yang kupeluk.
“Darimana ayah tahu itu ?” pasti, sudah pasti pertanyaan berikutnya akan muncul. Ini sudah biasa.
“Nah, ayah sudah jawab pertanyaan pertama Ama, jawab dulu pertanyaan ayah, kenapa Ama nanya itu”
“Ehm…kenapa ya….kira-kira kenapa yah Ama nanya itu,” Ama balik bertanya.
“Beuuuh, koq jadi ayah yang ditanya,”protesku
“Begini yah, apa ya ? apa ya ? Pokoknya Ama cuma pingin tahu aja Yah. Karena Ama berpikir kalau masakan buatan ayah aja enak banget, apalagi masakan buatan Tuhan yah,”suara lugunya membuat tawaku ingin meledak. Kutahan sebisa mungkin, kalau sampai aku menertawakan jawabannya dijamin ia akan ngambek semalaman.
“Oh begitu, emang masakan ayah enak ya ?”
“Ya lumayan sih,”tersenyum aku mendengar jawaban Salma, kuraih tangannya.
“Makasih Ama”
“Oh ya…satu lagi yah,”
“Ups…sudah cukup pertanyaan tentang tuhan, Ama”, kupotong kalimat Ama.
“Bukan ayah, ini bukan tentang Tuhan. Ama mau nanya, kira-kira Bunda sekarang masak apa ya disana ?” tiba-tiba matanya yang tadi berbinar kini redup. Tatapannya terpaku pada air yang yang mengalir di kran. Aku tertegun dengan pertanyaan itu, lirih hati tiap kali Salma merindukan bundanya. Aku tahu pertanyaan itu pasti cermin rindunya. Oh Tuhan, kalau saja aku bisa membalikkan waktu, biarlah aku yang pergi, bukan Raiya. Salma lebih butuh bundanya daripada ayahnya. Batinku terhempas seiring pertanyaan Salma. Suasana menjadi hening.
“Ama, bunda sudah bahagia disana, Kalau Ama selalu Tanya tentang bunda, pasti bunda jadi sedih, Ama,”jawabku sekenanya. Ada pilu yang terselip tiap kali melihat pancaran mata Salma redup.
“Ayah, Ama kan rindu bunda, Ama cuma bertanya,”sebulir airmata meleleh di pipi Salma, bidadari kecilku itu. Kumatikan kompor, kuangkat udang saus tiram yang warnanya mulai menghitam.
“Ama, ayah juga rindu bunda, tapi Ama kan tahu, bunda tidak akan bisa kembali lagi,” kupeluk erat tubuh bidadari kecilku, kuseka airmatanya, persis ketika airmataku menetes.
“Ayah, maaf ya, ayah jadi nangis gara-gara pertanyaan Ama,” tatap matanya mulai cerah, seolah ingin menghiburku.
“Iya sayang, ayah tidak apa-apa,” kubisikkan kalimat itu ke telinga Salma.
“Ayo kita maaaakaaaan,”aku setengah berteriak, kugendong Salma dan kulempar pelan ke udara. Tawa pun berderai dari wajahnya.
“Horeeeeeee,” tatapannya tak teduh lagi.
Udang saus tiram tumpas kami santap berdua. Sebagai imbalan atas masakanku Salma memainkan piano untukku. Lagunya sih lumayan keren, pelangi-pelangi. Ya, pelangi-pelangi.
***
Kugegas motor tuaku sekeluar dari ruang ATM, pasti Salma sudah menungguku, batinku. Pasti kini ia sedang bingung. Jalanan padat merayap, maklum ini jam pulang sekolah. Motorku menyelip di ruang-ruang kecil antar mobil. Tak lagi peduli dengan pengemis yang mengulurkan tangan di perempatan.
Ah untunglah Salma masih ada temannya, di depan pagar sekolah Salma sudah tersenyum lebar melihat aku datang.
“Maafkan ayah Salma,”sembari kucium kening gadis kecil yang wajahnya adalah duplikat istriku.
“Gak apa-apa, ayah. Lagian ada Nia yang juga belum dijemput mamanya,”
“Oh begitu, ayo kita pulang Salma.”
“Bentar lagi ayah, kita tunggu mamanya Nia datang dulu, kasian kan Nia sendirian”
“Ehm, Nia pulangnya kemana sayang ?” tanyaku
“Slipi,om,” jawab Nia singkat
“Oh, mau om anter bareng Salma ?”
“Ngga om, kasihan mama, pasti ntar bingung,”tolak Nia lembut.
“Punya nomor hp mama atau papa Nia ? Biar kita telpon dulu mereka,”
“Ayah, papanya Nia kan sudah gak ada,”suara Salma menghentikan tanyaku.
“Ya sudah kalau begitu kita tunggu aja Mamanya Nia,”
“Sementara nunggu kita cari es krim dulu yuk,”ajakku ke dua gadis kecil dengan seragam merah putih dan topi yang melekat erat di kepala mungil mereka.
“Horeeeee…..es krim,”suara dua gadis mungil itu serentak.
Belum habis es krim di tangan kami bertiga, tiba-tiba sebuah sedan biru dengan kaca gelap berhenti persis di depan kami.
“Ayoo Nia, masuk,” perempuan rambut panjang dengan kacamata hitam nampak dari balik jendela pintu mobil.Nia pun mengikuti perintah perempuan itu.
“Da…daaa, Salma,” salam perpisahan Nia ke Salma.
“Makasih Salma, makasih pak, sudah nemenin Nia,” perempuan itu melempar senyum ke kami berdua.
“Oh iya, saya Ria,” perempuan berambut panjang itu mengulurkan tangan dari balik kemudi sembari membuka kaca mata hitamnya.
“Saaa yaa, Arya,”suaraku terbata menatap sorotan tajam mata perempuan itu. Tak lama mobil itu melaju. Ah, tatapan yang rasanya sangat akrab bagiku. Tiba-tiba senyum Raiya, memenuhi imajinasiku.
Kunyalakan motor dalam kesadaran yang masih setengah-setengah. Salma merapatkan tubuhnya, kedua tangannya memeluk erat pinggangku.
***
“Ayah bangun, banguuun ayah,” suara Salma sudah memecah pagi yang bahkan belum dimulai.
“Ama, baru jam lima, lagian hari ini hari libur kan ?” aku mencoba bernegosiasi sembari mengangkat sepuluh jariku, “Sepuluh menit lagi, Ama.”
“Ayaaah, No…!” Kalau sudah kata itu yang keluar, lebih baik aku terjaga, daripada suara melengkingnya akan membangunkan satu RT. Maklum, rumah petak kami berdekat-dekatan, bahkan suara orang berbisik di rumah sebelah saja bisa terdengar tetangga. Apalagi suara lengking Salma.
“Ayah, apa tuhan juga bangun pagi ?” Tanya Salma sudah menghiasi pagi dimana kesadaranku belum terkumpul benar.
“Ama, sepagi ini sudah bertanya soal Tuhan, please dong Ama, jangan sepagi ini,” suaraku terdengar sedikit tinggi. Demi mata cerah Salma yang mulai meredup dan tatapannya yang terpusat di jarinya yang sedang memilin-milih selimut, aku rendahkan suaraku.
“Emang kenapa Ama nanya itu ?” kuucapkan kalimat itu setengah berbisik.
“Tadi malam Ama bermimpi ketemu bunda, ayah. Rasanya kita bertiga pergi melewati jembatan Ampera itu,”suara Salma datar tapi dengan tatapan mata berbinar.
“Teruus ?”
“Rasanya bunda berjalan di depan kita berdua, sedang ayah menggendong Ama. Lalu kita bertiga menatap ke arah sungai yang besar itu. Bunda bilang kalau suatu saat kalau Ama besar akan diajak naik perahu menyeberangi sungai itu. Terus,” tak lagi jelas apa yang dikatakan Salma, pikiranku terlanjur berlari jauh.
Betapa bencinya aku dengan kota dimana jembatan itu berdiri. Semua tentang kota itu adalah kesedihan. Raiya sudah menolak ketika kantorku meminta aku menjadi kepala cabang di kota kelahiranku itu. Bukan karena ia tak mau berada dekat orang tuaku. Tapi karena Raiya merasa, aku bisa saja terjebak dengan cinta lamaku di kota itu. Aku menyesali keputusanku memaksa Raiya pindah kesana. Aku merasa alasan Raiya tak masuk akal. Aku tak pernah tahu bahwa godaan cinta masa lalu tak lah mudah untuk ditepis. Apalagi cintaku di masa lalu itu memang belum menikah.
Tak akan pernah aku ampuni salahku itu. Apalagi jembatan tua itu, sungguh aku menghujatinya seumur hidupku tersisa. Di atas jembatan itulah Raiya meregang nyawa. Persis ketika ia mendapati sebuah pesan mesrah dari mantan kekasihku di handphone. Ia menanyakan itu padaku, aku membantahnya. Aku bilang tak ada hubungan apa-apa antara kami. Raiya marah, ia memaksaku untuk menurunkannya dari motor, persis di atas jembatan itu. Ia berlari dari motor, sebuah bus kota mencabik tubuh mungil Raiya. Ah, kalau saja, kalau saja aku mengikuti kehendak Raiya. Hatiku terguncang dengan pertanyaan dan mimpi bidadari kecilku.
“Ayah…..ayah, dengar gak sih apa yang Ama ceritakan,” teriak Salma sembari menggoyang-goyang pundakku.
“Iya Ama, ayah dengar. Teruus ?”
“Waktu bangun dari mimpi itu, Ama ingin berdoa pada Tuhan, berdoa agar bisa ketemu bunda lagi, sekali saja…” Kalimat Salma menghujami hatiku, seperti hujan deras yang menyirami tanah, lembab dan dingin hatiku dibuatnya.
“Nah, Ama kan gak tahu apakah Tuhan itu sudah bangun pagi-pagi begini atau belum. Takutnya kalau Ama berdoa kepagian Tuhan belum bangun, jadi Ama Tanya Ayah dulu deh,” logika lucu Salma tak mampu membuatku tersenyum. Hatiku terlanjur rapuh, batinku menghardiki diriku yang telah menyebabkan Raiya pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Sesisa umurku akan kukutuki diri, kotaku dan jembatan tua itu. Tak akan kuinjakkan kakiku kesana lagi, tak akan.
“Ayah, Ama pingin ke jembatan itu lagi,” pinta Salma kian membuatku tak berdaya, marah, terluka dan merasa bersalah.
“Ayah koq diam saja, bawa Ama ke jembatan itu ya, hadiah buat ulang tahun Ama ya, yah ?” Permintaan yang sebenarnya bukan permintaan besar dari anakku semata wayang, tapi batinku seperti dilanda badai yang berujung pada lelehnya airmata.
***
Hari ke tujuh di bulan kedelapan, rezeki datang tak terkira. National Geographic menerbitkan tulisanku, honornya pun sudah di tangan. Cukuplah untuk memberi kejutan untuk Salma di hari ulang tahunnya esok hari.
Sebuah sepeda pastilah akan membuatnya bahagia alang kepalang. Salma memang tak pernah meminta sebuah sepeda, tapi teman-temannya semua sudah punya. Pastilah ia juga sudah lama menaruh harap akan sepeda.
Esok pagi selama Salma sekolah aku akan ke toko sepeda, membelikan sebuah sepeda untuk Salma, warna merah tentunya. Warna favorit gadis kecilku itu. Kucoba pejamkan mata, sembari mencoba mereka-reka di toko sepeda mana aku bisa dapat harga yang murah.
Lamunanku terhenti, teringat akan pinta Salma untuk datang lagi ke jembatan tua di kota yang kubenci itu. Ah, tidak, tidak mungkin aku kembali ke kota yang telah membunuh istriku itu. Tak akan sudi aku melihat jembatan tua itu, melihat foto jembatan itu saja aku tak lagi sanggup, apalagi berdiri di atasnya. Biarlah sepeda roda tiga berwarna merah saja yang akan menjadi penanda usia ke delapan Salma.
Kutatap wajah Salma yang tertidur lesu di sampingku, sekali lagi kudapati wajah Raiya di wajah Salma. Beruntung aku memilki gadis mungil ini dalam hidupku, terima kasih Tuhan.
Mataku sulit terpejam, esok delapan tahun Salma, aku sudah bulat akan memberikan sepeda berwarna merah, tapi entah mengapa bayang-bayang jembatan tua di kotaku tiba-tiba melintas. Terbersit keinginan untuk berdamai dengan masa lalu dan memaafkan diriku atas apa yang terjadi. Bukankah Tuhan memiliki skenario atas apa yang terjadi pada mahluknya.
Ah, tidak mungkin, omong kosong semua itu. Sepeda roda tiga berwarna merah. Itu saja, titik.
“Selamat ulang tahun Ama sayang,” kukecup kening bidadari mungilku. Kudekap erat tubuhnya. Seragam merah putihnya belumlah tanggal, tapi hasrat untuk memberikan kejutan padanya begitu menggebu.
“Makasih ayah,” senyumnya memancar.
“Ini hadiah ulang tahun untuk Ama…..eng ing eng,”
“Ayah, apa ini ?” sahut Ama penuh Tanya.
“Bukalah Ama,” berlahan Ama membuka kado ulang tahunnya. Matanya memasati amplop kecil berwarna putih yang kini ia pegang. Tiba-tiba ia membalikkan wajah dan memelukku erat.
“Makasih Ayah, makaaasih. Tuhan terima kasih Kau mengabulkan doa Ama,” airmata Ama yang meleleh membuat pelukanku ke tubuh mungil itu makin erat.
“Ayah, akhirnya kita akan melihat lagi jembatan tua itu, makasih ayah…makasih,” kalimat deras meluncur dari Salma.
“Kita juga akan ketemu nenek sama kakek,” bisikku
“Horeeeee…….” Keriangan pecah, Salma menari-nari, Ruto yang sedari tadi terbujur di atas sofa kini terjaga menyaksikan Salma menari berputar-putar.
Sebuah permainan piano menjadi hadiah Salma untukku yang menghadiahinya tiket pesawat ke Palembang. Lagu Bunda menjadi pilihan Salma.
Lagu yang membawa kami pada masa lalu, masa dimana Raiya masih ada, lagu ini pula yang paling sering dimainkan Raiya. Kemahiran berpianonya diwarisi oleh Salma kini.
Pada akhirnya, masa lalu harus dilihat sebagai masa lalu. Bukan untuk dibuang apalagi dikutuki. Serpihan masa lalu adalah keping yang harus ditata dan dijaga. Karena sesakit apapun, masa lalu lah yang membentukku hari ini. Selamat ulang tahun Salma. I love you, Raiya.
-Kibas Ilalang-
Source: http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/02/19/apakah-tuhan-bangun-pagi-ayah--536434.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar