Kamis, 14 September 2017

DI UJUNG HARAPAN

"Kamu yakin...?'' tanya Riza.
"Iya bang, Insya Allah aku akan baik-baik saja di sana..." jawab Linda.
"Kira-kira berapa lama kamu akan disana..?"
"Doain aku agar lancar yah bang, mudah-mudahan dalam 2 tahun aku bisa menyelesaikan tugas ini, semoga abang bisa sabar menunggu.."

*****

Waktu berlalu tanpa terasa sudah 1 tahun Riza dan Linda menjalani hari-hari secara berjauhan. Baru satu kali semenjak kepergian Linda ke negeri beruang putih itu untuk menjalani tugas belajar dari tempatnya bekerja. Itu pun hanya sesaat ketika hari Raya Idul Fitri, Linda mendapat cuti 1 minggu lamanya.

Hanya lewat email dan social media mereka berkomunikasi walaupun tidak terlalu sering karena kesibukan masing-masing tetapi pasti ada kabar diantara mereka berdua.

"Nda.., bagaimana kabar kamu sekarang? Maaf yah, aku lama ga kirim kabar untuk kamu. Project yang aku handle lagi banyak niy..pusing juga ngurusinnya..:(
Kamu baik-baik ajah kan? Lama juga aku ga dengar kabar dari kamu...:)"

Sebuah pesan singkat dikirimkan Riza untuk Linda melalui email, tapi setelah sekian lama berlalu tidak pernah ada balasan dari Linda.

"Kamu kemana Nda..?" pikir Riza, "sudah seminggu lebih tidak ada kabar dari kamu, kamu baik-baik ajah kan..? Huuuhh...mana kerjaan lagi banyak neh, mo ke rumah Linda kaga ada waktunya neh..." sungut Riza dalam kamarnya.

*****

"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." terdengar suara seorang wanita setengah baya dari dalam rumah.
"Eh....Riza, masuk nak..." ajak wanita tersebut.
"Apa kabar ma..?" ucap Riza sambil mencium tangan wanita tersebut.
"Alhamdulillah baik, kamu kemana saja? Jarang banget main ke sini.." sahut wanita tersebut.
"Iya ma, lagi sibuk banget. Ada project baru yang lagi aku tanganin, jadi baru sempat main sekarang. Linda kabarnya gimana ma..? Aku udah lama ga dapat kabar dari Linda, sudah banyak email aku tanpa balasan dari Linda..." lanjut Riza langsung ke tujuan.
"Ya udah tunggu sebentar, mama ke dalam dulu..." sahut wanita tersebut.

Setelah sekian lama tidak mendapat kabar dari Linda, akhirnya Riza mengusahakan ke rumah Linda demi mencari kabar sang belahan hatinya tersebut. Riza sudah sangat akrab dengan keluarga Linda, keluarga Linda pun sudah seperti menganggap anak sendiri kepada Riza. Maklumlah, hubungan yang mereka jalin memang belum terlalu lama tapi mereka menjalaninya dengan niat tidak hanya sekedar main-main, ada niat suci di dalamnya.


Riza menunggu sambil melihat-lihat photo-photo yang terpajang di ruang tamu tersebut, ada beberapa photo Linda yang bersama Riza terpajang disana, disaat dua keluarga besar mereka bertemu untuk saling berkenalan dan berkompromi mengenai hubungan yang mereka jalani.

Tak lama, mamanya Linda keluar dari ruangan dalam sambil membawa minuman dan setoples kue nastar kesukaan Riza.

"Aaahhh...pas banget neh ada kue nastar..." sahut Riza sumringah.
"Iya, kemarin mama iseng-iseng di dapur kepikiran kamu, jadi mama bikin kue kesukaan kamu ajah dah.." jawab mama Linda.

Sejenak keakraban terjalin diantara obrolan mereka, dari mulai membahas pekerjaan sampai akhirnya kembali ke topik tujuan Riza datang ke rumah tersebut.

"Linda mana sih ma? Ga ada kabarnya gini..." sungut Riza.
"Ada ko, yuk ikut mama..." jawab mama Linda.

Mereka pun keluar rumah tersebut, mama Linda berjalan terlebih dahulu berbelok ke arah belakang dari kediamannya. Riza yang mengikuti penuh tanda tanya, kemana calon mertuanya itu mengajaknya.

"Kita mau kemana ma? Ke kebun belakang..?" tanya Riza. 

Keluarga Linda memang mempunyai kebun di belakang rumah mereka, sebuah kebun buah-buahan dan beberapa petak sawah. Riza jadi teringat ketika sebelum Linda memutuskan pergi keluar negeri, mereka sering menghabiskan waktu bersama disana, sambil bercengkrama dengan karyawan-karyawannya orang tua Linda.

"Katanya mau ketemu Linda..?" balas mama Linda.
"Emang Linda lagi ke kebun? Udah pulang dari Rusia? Kok ga bilang-bilang aku..?" berondong Riza. Seperti ada nada kesal dari suaranya.
"Nanti kamu akan tahu sendiri.." ujar mama Linda sambil tersenyum.

Perjalanan mereka terhenti di dekat sebuah saung yang cukup teduh, tetapi mereka tidak ke saung tersebut tetapi ke balik pagar besi setinggi paha orang dewasa dan terlihat masih baru berjarak kurang lebih 10 meter di samping saung.

Riza terhenyak kaget dengan keadaan itu, yang dia tahu saung itu adalah tempat dia dan Linda sering bersama dahulu dan tidak ada pagar tersebut. Dan yang lebih membuat Riza kaget adalah dibalik pagar tersebut ada sebuah makam yang juga terlihat masih baru.

"Disini Linda Za, terbaring dengan tenang..." sahut mama Linda pelan.

Lutut Riza bergetar, sesak terasa sangat di dadanya. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Tanpa sadar Riza bersimpuh disamping makam tersebut, tangisnya tak tertahankan ketika membaca tulisan di batu nisannya, Marlinda. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya selain isak tangis penuh ketidak percayaan.

"Kenapa ma? Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak diberi tahu..?" tanya Riza disela-sela isak tangisnya.
"Pengobatan yang dilakukan tidak berhasil Za, kami mencoba untuk memberitahukanmu tapi atas permintaan Linda kami tidak jadi memberitahumu.." jawab mama Linda.
"Kapan ma..?" tanya Riza.
"Kurang lebih 6 bulan yang lalu..." jawab mama Linda.

                                                               *******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar