Rabu, 16 Juli 2014

Adzan di Surau Naga Kepala Dua

“Seekor naga berkepala dua dengan gigi-gigi tajamnya sedang tertidur mengumpulkan tenaga di bawah surau, menanti sesuatu yang penting, sesuatu yang sekarang mulai luput dikerjakan oleh manusia” cerita kakek dengan sangat mendebarkan,, bahkan angin ikut mendengar tak terkecuali Sipet.

“Apa itu kek?” Tanya Sipet dengan wajah yang ikut tegang seperti kusen-kusen jendela yang berhenti tertiup angin malam.

Sang kakek dengan menghela napas berkata dengan gagah sedikit kecewa juga
“Adzan” ucap kakek
“Kenapa adzan kek?”
“Sebab naga berkepala dua itu hanya bisa dikalahkan oleh adzan, dan selama ada adzan dia tidak akan bisa bangkit dan menyerang manusia”
“Oh begitu kek, jika Sipet bercanda di surau itu dengan teman-teman apakah akan membangunkan naga berkepala dua?”
Timbul muslihat kakek dan berucap
“Tentu, dia suka memakan anak kecil”
Kakek berpura-pura menjadi naga yang kelaparan, sontak membuat kaget Sipet dan tertawa kegelian melihat tingkah kakeknya itu.
“Apa di surau yang lain ada naga berkepala dua seperti di surau kita itu kek?”
“Oh tentu, naga kan bertelur di mana-mana, tanpa kita semua ketahui”

Kakek masih saja mengarang, yang dia pikir memang sudah tradisi menakut-nakuti anak untuk mengarahkannya pada tujuan yang diinginkan, lantas ini terus saja mengalir dari waktu ke waktu. Ketika anak-anak sudah bertumbuh menjadi orang dewasa ia merasa dibohongi, jadi ya terus saja ini terjaga. Sipet tidur terelus manja tangan keriput kakek, jendela kaku makin kaku dikunci kakek. Batuk kakek menemani jangkrik lewat malam yang terasa sudah makin tak berarti bagi kakek. Siapa yang tahu pula malam itu jangkrik ditemani batuk terakhir kakek, dan naga berkepala dua itulah cerita akhir kakek pada Sipet.
***
Sipet diperbincangkan orang sekampung, seorang bocah berumur delapan tahun hidup sendiri setelah kakek angkat yang memeliharanya sudah ditarik masa berlaku ruhnya. Bersamaan itu juga banyak yang datang berniat mengadopsinya, tapi dia selalu saja sembunyi ketika ada yang mengunjunginya, dan tempat persembunyiannya di tong bedug surau kampung. Sempat sekali di adopsi oleh sepasang suami istri yang tak beranak di kampung sebelah, tapi malah kabur dan tidur di makam kakeknya.

Orang sekampung sudah tak heran melihat pekerjaan Sipet yang setiap harinya diam di bawah bedug sambil memantau jam dan memeluk lutut seperti ketakutan. Anak-anak seumurannya sudah diajak berkelahi semua saat khutbah shalat jumat, dia mengamuk tak karuan sambil berteriak “jangan gaduh, nanti dia bangun!”. orang dewasa hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengusap kepalanya. Tapi satu hal lagi yang ganjil, tak kerasan Sipet jika kepalanya dielus oleh orang sembarangan, ia hanya mau dielus oleh seorang muadzin.

Kepala desa mendengar cerita tentang Sipet, dan khawatir pada keadaannya. Kepala desa yang terketuk pintu hatinya, mengadakan sayembara untuk tiga bulan yang akan datang. Pada siapa saja yang bisa membuatnya tertawa dan tak ketakutan memeluk lutut di bawah tong bedug dan bisa membawanya dari surau itu akan diadakan pesta besar tujuh hari tujuh malam di alun-alun dan menobatkan orang itu pahlawan hak asasi anak. Berita ini geger, siapa yang tak mau pesta yang dihadiahkan untuk diri sendiri dan dengan gelar yang mulia seperti itu?.

Semua orang di kampung itu menyiapkan cara yang memikat untuk dilakukan, seketika buku psikologi anak menjadi laris, warung-warung di kampung menjualnya menggantikan obat nyamuk yang biasanya laku keras. Persis seperti kampung yang menernak kutu buku, semuanya tiba-tiba menjadi ingin tahu permasalahan anak dan bukan hanya teori membuat anak saja, khususnya anak dengan keadaan yang sangat ganjil seperti Sipet. Sehari sebelum sayembara, petugas kesehatan datang dan mengumumkan penelitiannya bahwa anak penderita gizi buruk makin meningkat di kampung itu, dan baru kali ini ada kasus gizi buruk akibat pengaruh buku psikologi anak.

Hari sayembara telah tiba, semua orang membawa perlengkapan untuk mengikuti sayembara, sampai-sampai menghafal dialog layaknya seorang yang akan naik panggung mementaskan drama oedipus, begitu tegang dan serius. Dahi-dahi terkerut sampai batasnya membanjiri halaman surau. Ketika matahari di atas kepala , Sipet menangis resah tanpa berkata dan menjawab pertanyaan orang-orang. Tapi justru tangisan itu menambah gairah orang-orang untuk menghiburnya, persaingan makin sengit di antara tangis Sipet yang kemudian senyap. Pada jam-jam shalat Sipet selalu menangis, tapi tak terasa sudah tujuh hari dan belum juga selesai sayembara, sebab sudah banyak orang yang tahu dan mau mencobanya.

Pada hari ke delapan seorang tua renta ikut sayembara, ia menghiburnya dengan memberikan dua batang tongkat yang tak terlalu panjang dan besar, ya sebesar tongkat hansip kira-kira. Sipet yang kebetulan air matanya mengering tiba-tiba memukul-mukulkan dua tongkat itu pada kulit bedug dan sesudah puas kemudian Sipet diam dan bersedia menemani kakek itu jalan-jalan ke alun-alun. Ini artinya sayembara telah berakhir dan gelar kehormatan sudah jatuh pada seorang pemenang, yaitu kakek renta tadi itu. Seperti di janjikan kepala desa, pesta besar-besaran pun digelar. Kakek pemenang sayembara begitu bahagia, gigi ompongnya serasa tumbuh kembali. Orang-orang ikut hanyut dalam pesta, tak ada satu orangpun yang tak ikut berpesta panjang. Tak ada orang pada suarau, tak ada adzan pada telinga, hanya ada Sipet yang ternganga melihat naga berkepala dua melayang-layang di atas kepala orang-orang sekampung yang sedang berpesta.

  
Tangerang, 08-12-2013
M. Sopiandi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar