“Seekor naga berkepala dua
dengan gigi-gigi tajamnya sedang tertidur mengumpulkan tenaga di bawah surau,
menanti sesuatu yang penting, sesuatu yang sekarang mulai luput dikerjakan oleh
manusia” cerita kakek dengan sangat mendebarkan,, bahkan angin ikut mendengar
tak terkecuali Sipet.
“Apa
itu kek?” Tanya Sipet dengan wajah yang ikut tegang seperti kusen-kusen jendela
yang berhenti tertiup angin malam.
Sang
kakek dengan menghela napas berkata dengan gagah sedikit kecewa juga
“Adzan”
ucap kakek
“Kenapa
adzan kek?”
“Sebab
naga berkepala dua itu hanya bisa dikalahkan oleh adzan, dan selama ada adzan
dia tidak akan bisa bangkit dan menyerang manusia”
“Oh
begitu kek, jika Sipet bercanda di surau itu dengan teman-teman apakah akan
membangunkan naga berkepala dua?”
Timbul
muslihat kakek dan berucap
“Tentu,
dia suka memakan anak kecil”
Kakek
berpura-pura menjadi naga yang kelaparan, sontak membuat kaget Sipet dan
tertawa kegelian melihat tingkah kakeknya itu.
“Apa
di surau yang lain ada naga berkepala dua seperti di surau kita itu kek?”
“Oh
tentu, naga kan bertelur di mana-mana, tanpa kita semua ketahui”
Kakek
masih saja mengarang, yang dia pikir memang sudah tradisi menakut-nakuti anak
untuk mengarahkannya pada tujuan yang diinginkan, lantas ini terus saja
mengalir dari waktu ke waktu. Ketika anak-anak sudah bertumbuh menjadi orang
dewasa ia merasa dibohongi, jadi ya terus saja ini terjaga. Sipet tidur terelus
manja tangan keriput kakek, jendela kaku makin kaku dikunci kakek. Batuk kakek
menemani jangkrik lewat malam yang terasa sudah makin tak berarti bagi kakek.
Siapa yang tahu pula malam itu jangkrik ditemani batuk terakhir kakek, dan naga
berkepala dua itulah cerita akhir kakek pada Sipet.
***
Sipet diperbincangkan orang
sekampung, seorang bocah berumur delapan tahun hidup sendiri setelah kakek
angkat yang memeliharanya sudah ditarik masa berlaku ruhnya. Bersamaan itu juga
banyak yang datang berniat mengadopsinya, tapi dia selalu saja sembunyi ketika
ada yang mengunjunginya, dan tempat persembunyiannya di tong bedug surau kampung. Sempat sekali di adopsi oleh sepasang
suami istri yang tak beranak di kampung sebelah, tapi malah kabur dan tidur di
makam kakeknya.
Orang sekampung sudah tak heran
melihat pekerjaan Sipet yang setiap harinya diam di bawah bedug sambil memantau jam dan memeluk lutut seperti ketakutan.
Anak-anak seumurannya sudah diajak berkelahi semua saat khutbah shalat jumat,
dia mengamuk tak karuan sambil berteriak “jangan gaduh, nanti dia bangun!”.
orang dewasa hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengusap kepalanya. Tapi
satu hal lagi yang ganjil, tak kerasan Sipet jika kepalanya dielus oleh orang
sembarangan, ia hanya mau dielus oleh seorang muadzin.
Kepala desa mendengar cerita tentang
Sipet, dan khawatir pada keadaannya. Kepala desa yang terketuk pintu hatinya,
mengadakan sayembara untuk tiga bulan yang akan datang. Pada siapa saja yang
bisa membuatnya tertawa dan tak ketakutan memeluk lutut di bawah tong bedug dan bisa membawanya dari
surau itu akan diadakan pesta besar tujuh hari tujuh malam di alun-alun dan
menobatkan orang itu pahlawan hak asasi anak. Berita ini geger, siapa yang tak
mau pesta yang dihadiahkan untuk diri sendiri dan dengan gelar yang mulia
seperti itu?.
Semua orang di kampung itu
menyiapkan cara yang memikat untuk dilakukan, seketika buku psikologi anak
menjadi laris, warung-warung di kampung menjualnya menggantikan obat nyamuk
yang biasanya laku keras. Persis seperti kampung yang menernak kutu buku,
semuanya tiba-tiba menjadi ingin tahu permasalahan anak dan bukan hanya teori
membuat anak saja, khususnya anak dengan keadaan yang sangat ganjil seperti
Sipet. Sehari sebelum sayembara, petugas kesehatan datang dan mengumumkan
penelitiannya bahwa anak penderita gizi buruk makin meningkat di kampung itu,
dan baru kali ini ada kasus gizi buruk akibat pengaruh buku psikologi anak.
Hari sayembara telah tiba, semua
orang membawa perlengkapan untuk mengikuti sayembara, sampai-sampai menghafal
dialog layaknya seorang yang akan naik panggung mementaskan drama oedipus, begitu tegang dan serius.
Dahi-dahi terkerut sampai batasnya membanjiri halaman surau. Ketika matahari di
atas kepala , Sipet menangis resah tanpa berkata dan menjawab pertanyaan
orang-orang. Tapi justru tangisan itu menambah gairah orang-orang untuk
menghiburnya, persaingan makin sengit di antara tangis Sipet yang kemudian
senyap. Pada jam-jam shalat Sipet selalu menangis, tapi tak terasa sudah tujuh
hari dan belum juga selesai sayembara, sebab sudah banyak orang yang tahu dan
mau mencobanya.
Pada hari ke delapan seorang tua
renta ikut sayembara, ia menghiburnya dengan memberikan dua batang tongkat yang
tak terlalu panjang dan besar, ya sebesar tongkat hansip kira-kira. Sipet yang
kebetulan air matanya mengering tiba-tiba memukul-mukulkan dua tongkat itu pada
kulit bedug dan sesudah puas kemudian Sipet diam dan bersedia menemani kakek
itu jalan-jalan ke alun-alun. Ini artinya sayembara telah berakhir dan gelar
kehormatan sudah jatuh pada seorang pemenang, yaitu kakek renta tadi itu. Seperti
di janjikan kepala desa, pesta besar-besaran pun digelar. Kakek pemenang
sayembara begitu bahagia, gigi ompongnya serasa tumbuh kembali. Orang-orang
ikut hanyut dalam pesta, tak ada satu orangpun yang tak ikut berpesta panjang.
Tak ada orang pada suarau, tak ada adzan pada telinga, hanya ada Sipet yang
ternganga melihat naga berkepala dua melayang-layang di atas kepala orang-orang
sekampung yang sedang berpesta.
Tangerang,
08-12-2013
M.
Sopiandi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar