Selasa, 30 Juli 2013

Sang Bidadari

.....
Shalatku tidak khusuk karena selalu terbayang kamu...
Mengajiku tidak panjang karena kamu yang slalu ada di kepalaku...
Bukannya aku ingin menjauh darimu Di, tapi aku ingin merubah cara kita ini. Aku telah lama mengenalmu begitupun kamu, keluargaku sudah mengenalmu walaupun terpisah jarak..aku ingin kita jalani ini lebih syar'i Di..lebih bernilai..maafkan aku, mulai saat ini kita tidak usah bertemu lagi. Orang tuaku ada di kampung, kamu pun tahu alamatnya. Jika kamu memang ingin melanjutkan ini, mereka menunggumu...

Wassallam,
Rina



*****

Perlahan Adi melipat sepucuk surat yang baru ia terima, terlihat gundah di raut wajahnya. Rina, gadis yang selama ini dekat dengannya memintanya menjaga jarak. Memang setelah Rina mengikuti sebuah pengajian di tempatnya bekerja, ia terlihat berubah. Tutur katanya lebih sopan, lebih bermakna dan yang pasti lebih syar'i dalam segala tindak tanduknya.

"Kenapa bro?" tanya Anas, "muke lo kusut amat? Kaya baju belom di setrika ajah..."
"Dudulz lo..!!" sergah Adi, "gw lagi mikir bro, Rina udah ngajak serius ma gw, sedangkan gw masih belom dapat lampu ijo dari ortu neh.."
"Waduh...bukannya selama ini orang rumah lo bae-bae ajah ma Rina?" tanya Anas lagi.
"Iya bro...tapi gw pernah ngobrol-ngobrol santai ma ortu gw, ortu gw ga masalah kalo cuma berteman ajah, tapi kalo sampai nikah, mereka agak keberatan. Secara Rina lebih tua 3 tahun dari gw.." ujar Adi.
"Hmm...gw rasa harus secepatnya lo tegasin bro, kalo ga, Rina bakalan lepas dari lo..." sahut Anas sambil tersenyum.

Memang antara Adi dan Rina bisa dibilang seperti orang berpacaran walaupun bukan seperti anak-anak muda yang lainnya. Mereka suka pergi berdua tapi tidak suka pergi nonton film di teather, mereka jalan ke taman kota atau ke tempat-tempat banyak orang bersantai dengan keluarga. Saling bertukar pikiran, membahas tema-tema sosial, agama, sampai politik. Hal ini yang membuat Adi tertarik dengan Rina, walaupun usia Rina di atasnya tapi Rina bisa membuat seperti Adi lebih tua darinya. Ini juga dikarenakan luasnya pergaulan Adi, dan banyak pengetahuan yang ia dapatkan dari berbagai macam kawannya. Begitu juga Rina, menurutnya Adi bukan sekedar kawan bertukar pikiran saja, tapi lelaki ini bisa membuat hatinya tenang ketika ia bersamanya.

*****

" Jam 5 sore nanti, aku tunggu di tempat biasa. Ada yang ingin aku bicarakan..." bunyi sms dari Rina ke Adi. Ada keceriaan di wajah Adi, karena sudah lama ia tidak berjumpa dengan gadis pujaan hatinya ini.

"Apa yang akan kamu katakan Ri...?" Adi membatin, "..kamu memang jauh lebih baik kini, tidak seperti aku yang masih seperti dulu. Agamaku masih standar-standar ajah, sedangkan kamu, jauh melebihi aku. Jujur, aku malu terhadapmu..."

Pukul 16:45 Adi sudah sampai di tempat yang direncanakan. Sebuah bangku di bawah pohon yang lumayan rindang untuk meneduhi tempat duduk itu. Di hadapan bangku itu terbentang lapangan rumput yang tidak terlalu luas tapi sangat nyaman untuk bermain bagi anak-anak kecil.

Tak lama kemudian, datang 2 orang wanita dengan hijab yang sangat anggun terlihatnya. Rina dan kawannya mendekati Adi yang langsung berdiri dan mendekapkan kedua tangannya di dada seperti orang bersalaman tetapi tidak bersentuhan.

"Assalamualaikum, maaf..sudah lama yah Di..?" sahut Rina, sambil duduk di ujung bangku tersebut bersama kawannya, sedangkan Adi duduk di ujung yang lain.

"Waalaikumsalam, tidak kok, belum lama...," sahut Adi, "ada hal penting apa rupanya sampai kamu mengundangku ke sini..?"

"Maaf Di, aku langsung saja yah.." balas Rina, "kamu pasti sudah baca surat dari aku, aku ke sini hanya ingin menyampaikan, aku memberi kamu waktu sampai hari Idul Fitri tahun ini bila kamu ingin kita melanjutkan hal ini. Aku tidak ingin bikin kamu bimbang lebih lama."

"Tapi Ri.." sanggah Adi.

"Maaf Di, aku bukannya mendesak kamu. Tapi di tempat aku pun, aku bimbang Di. Murabbiyah aku sering menanyakan tentang kesiapan aku untuk menikah. Tapi aku juga bingung menjawabnya. Hubungan yang seperti dahulu kita lakukan, tidak halal dalam agama kita Di..." ujar Rina menjelaskan.

"Baiklah..." ujar Adi lemah.

"Baiklah Di, aku pamit dahulu...Assalamualaikum," sahut Rina.

"Walaikumsalam..," jawab Adi.


*****

Bulan Ramadhan berlalu tanpa terasa oleh Adi, 4 bulan sudah berlalu dari sejak Rina memberikan waktu untuk Adi. Batas waktu yang diberikan oleh Rina pun sudah terlampaui. Tapi Adi belum memberikan keputusan untuk Rina.

"Kenapa yang lo ga coba ngomong lagi ma ortu lo Di..?" tanya Anas saat Adi bertandang ke rumahnya sekalian berlebaran kepada orang tua Anas yang sudah seperti orang tua Adi sendiri.

"Gw jadi ga pede bro, Rina sekarang sudah sangat berubah, tidak seperti dulu. Yang ada nanti bukan gw yang bimbing istri, istri yang bimbing gw..," jawab Adi.

"Ya kan, bisa jadi semangat lo untuk mendalami agama ini lebih dalam Di. Lo juga ga awam-awam amat masalah agama. Malah gw sering minta nasehat ma lo..," lanjut Anas.

"Iya seh, tapi dengan ortu gw yang sepertinya juga belum sepenuhnya merestui gw, gw rasa saat ini, ini yang terbaik yang bisa gw ambil..," lanjut Adi.

"Jadi lo mo lepasin gitu ajah..?" tanya Anas.

"Ga juga bro, Rina dulu waktu kasih dead line ma gw, dia pernah bilang. Setelah waktu yang ditentukan itu berakhir, dia terlepas dari ikatan tanpa hubungan ma gw ini. Dan dia akan menerima siapapun yang mengkhitbah dia pertama kali apabila memang tidak ada alasan untuk menolaknya secara syar'i.." lanjut Adi.

"Maksudnya..?" tanya Anas.

"Kalau memang lelaki yang mengkhitbah Rina itu orang yang baik, agamanya baik, akhlaknya baik, tidak ada alasan untuk Rina menolaknya. Siapa pun dia, bisa gw atau orang lain.." jelas Adi, "gw ada rencana 4 bulan lagi, gw akan mengkhitbah dia. Gw rasa saat itu gw akan siap untuk melamarnya."


*****

3 bulan kemudian....

Tuutt...tuutt...tuutt...
Sebuah pesan pendek dari sebuah jejaring sosial masuk ke dalam smartphone Adi.

"Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kami mengundang kawan-kawan semua untuk menghadiri pernikahan kami pada:
Hari, tanggal : Sabtu, 24 November 2013
Ijab Kabul     : 09.00 WIB
Resepsi        : 11.00 - 17.00 WIB
Besar harapan kami agar kawan-kawan semua dapat menghadiri acara ini untuk memberikan doa restu untuk kami.

Rina & Syaiful"

Tak lama setelah menutup smartphonenya, Adi langsung terduduk di tempat tidurnya. Dibukanya laci kecil di samping tempat tidur dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dengan mata yang berkaca-kaca, dibukanya kotak kecil tersebut dan terlihat sebuah cincin dari emas putih dengan permata kecil di atasnya.

"Selamat Ri....semoga kamu bahagia dengannya, semoga ia bisa menjadi imam yang baik untukmu baik di dunia maupun di akhirat..." gumam Adi, "maafkan aku yang hanya bisa mengirimkan doa restuku dari kamar ini..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar