Kamis, 16 Mei 2013

Brigade 0812 Black Eagle

"Damn....!!!!!"  seru Dhay, yang segera berlindung di balik reruntuhan gedung yang telah hancur sebagian besar temboknya.
"Ada apa lagi Capt..?" tanya Reno.
"Senjataku macet lagi..!!!" sahut Dhay sambil mencoba mengokang kembali senjatanya.
"Sini..coba aku liat, pake dulu ini.." ujar Reno sambil menyerahkan sebuah pistol FN kepada sang kapten.

Braakkk...!!!
"Cara terakhir yang seringkali ampuh..." ujar Reno sambil menyerahkan kembali M16 kepada sang kapten.
"Wuedaaannn...mang ga ada cara lain apa? Tiap macet digebrak mulu bini gw..." sahut Dhay sambil menerima kembali M16-nya.

Dhay memang selalu menganggap senjatanya adalah istrinya, dia pernah ditanya kenapa bisa begitu, dengan enteng dia jawab, "..karena tiap malem gw kelonin mulu.."

"Hehehehe...namanya juga senjata kuno om..." kata Reno sambil cengar-cengir.
"Kuno tapi cihui che...." sahut Dhay kembali, "..kita harus secepatnya tarik mundur pasukan, situasi ga memungkinkan..."
"Siaap Capt..." jawab Reno sambil keluar dari persembunyiannya menuju anak buah mereka.

Sementara suara desingan peluru dan ledakan masih berkumandang di udara, Dhay dan pasukannya sudah mulai mundur teratur dari medan laga.
-----
Dua orang berbadan kekar terlihat berdiskusi dengan serius di dalam sebuah ruangan, bahkan sesekali terlihat seperti bukan berdiskusi tapi ingin berkelahi karena saling tunjuk dan saling dorong.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang serius melihat ke arah mereka melalui celah pintu yang tidak terlalu rapat. Pandangannya seperti menyelidik, penuh tanya tapi setelah sekian lama mata itu terlihat meredup seperti menahan sesuatu di hatinya.

"Apa yang bikin lo kaya gini sekarang..?" Reno bertanya sambil menghempaskan pantatnya ke kursi.

Suaranya sudah mulai tenang. Sementara Dhay masih tetap berdiri sambil terkadang sesekali mengusap kepala ke belakang dengan tangannya sambil mencoba menarik rambutnya yang model cepak. 2 orang pucuk pimpinan Brigade 0812 Black Eagle seperti kebingungan menghadapi masalah yang mereka alami.

"Gw juga bingung, che..." jawab Dhay. Che adalah sebutan dari Dhay untuk kawan-kawan dekatnya.

"Gw dari awal udah ngeliat ada yang aneh ma lo.." sahut Reno kembali, "..serangan kita beberapa kali terakhir ini ga memuaskan. Tapi lo ga pernah tegor dia, apa karena dia pernah punya tempat special di hati lo..?"
"Ga ada hubungannya..!!" sergah Dhay cepat.
"Tapi ini yang terjadi, dan dia itu INHART..!!!" jawab Reno tak kalah meradang.
"Bukan..dia bukan INHART..!!" sanggah Dhay cepat, "..kalo memang dia INHART, kenapa waktu kita mengobati luka pecahan mortir dia seperti meringis kesakitan..?"
"Aahh..itu mah bisa-bisanya dia ajah.." jawab Reno.

Tiba-tiba terlihat bayangan di luar ruangan mereka diskusi melesat dengan cepat yang membuat 2 orang sahabat ini terkesiap dan langsung berusaha mengejar bayangan tersebut.

"Nida..!!" sahut Reno tercekat.

Dhay langsung dengan reflek menyerbu ke arah pintu dan berteriak, "Nidaaa, tunggu..!!"
-----
Suasana basecamp Brigade 0812 Black Eagle berjalan seperti biasa, mereka seakan tidak terpengaruh atas kejadian di hari sebelumnya. Ketika 2 orang pucuk pimpinan mereka bersitegang di dalam ruang meeting. Tapi ada yang tidak biasa terjadi disana, terlihat di dalam ruang komando khusus, ada tiga sosok yang sedang berbincang dengan serius. Dhay, Reno dan Nida, terlihat raut wajah Dhay dan Reno serius mendengarkan penuturan Nida yang duduk tertunduk dan terkadang terdengar seperti isak tangis dari mulutnya. Dhay menyilangkan tangan di depan dadanya yang bidang sambil bersandar di meja sedang Reno berdiri agak lebih ke belakang dengan meletakkan kakinya di atas bangku sambil menopang tubuhnya dengan sikutnya di atas dengkul.

"Aku sempat pingsan ketika dia akan mengangkat tubuhku.." jelas Nida, "ketika aku sadar, aku berada di sebuah ruangan yang sangat terang dan berbagai macam alat elektronik disekelilingku, dan aku dijadikan seperti mereka.."

Dengan lancar Nida menceritakan kejadian 3 tahun sebelum ia bergabung dengan pasukannya Dhay. Sky In Line sebuah coorporate raksasa yang membuat INHART (Intellegent Human Robot), sebuah proyek membuat robot-robot dari manusia yang ditanamkan sebuah chip di otaknya. Sehingga semua perilaku dan tindakannya diatur oleh sebuah program. Menjadi prajurit tangguh yang mumpuni. Nida adalah seseorang yang berhasil mereka tangkap ketika wilayah tempat Ia tinggal dan keluarga diserbu oleh tentara-tentara INHART karena wilayahnya dahulu adalah salah satu kantung pergerakan perlawanan terhadap INHART. Tetapi beruntung ketika dia akan menjalankan suatu misi untuk melawan pergerakan perlawanan, memory tentang masa lalunya kembali lagi sedikit demi sedikit. Mungkin ada kesalahan prosedur yang dilakukan oleh teknisi Sky In Line.

"Aku akan menunjukkan jalan menuju Main Room Sky In Line. Disana letaknya main chip pengontrol para INHART. Once chip itu musnah, memory mereka akan kembali seperti sebelumnya.." ujar Nida.

"Apa jaminannya ini bukan misi bunuh diri..?" tanya Dhay.

"Apa yang ada di benakmu bila kamu melihat orang tuamu mati di depan matamu..?" Nida balik bertanya.

"Bisa saja kamu cuma mengarang cerita ini untuk menghancurkan kami..!!" bentak Reno, amarah terllihat jelas dimatanya.

"Reno..!!" sela Dhay, "aku percaya dia.."

"Apa..??" Reno terbelalak.

"Kita susun rencana.." sahut Dhay kemudian.

"Tapi Capt...." Reno berusaha menyela.

"It's an order..!!!" bentak Dhay tegas.

"Siap Captain..!!!" jawab Reno.
-----
"Damn...!!" sungut Dhay, "apa pasangannya..?"

"60mm, otomatis.." jawab Reno sambil kembali mengisi magazine senjatanya.

"Hahahahahaha....kalian pasti mendapat info dari gadis pengkhianat itu bukan..?" gelak tawa  terdengar dari arah yang berlawanan dengan posisi dengan Dhay dan Reno.
"Sudah saatnya Sky In Line menguasai dunia, dan kalian akan tunduk di bawah perintahku, hahahaha..." suara itu kembali terdengar.

"Dimana letaknya chip itu..?" tanya Dhay.

"Di bawah lengan bangku yang dia duduki.." jawab Nida yang baru saja merapat ke posisi tempat Dhay dan Reno berlindung.

"Aahh...damn..." maki Dhay kembali, "tinggal berapa amunisimu..?"

"2 magazine, 3 HE granat.." jawab Reno.

"Berikan aku ketiga granat itu.." pinta Nida kepada Reno.

"Apa yang akan kamu lakukan..?" tanya Dhay.

"Aku lakukan apa yang seharusnya aku lakukan.." jawab Nida, "terimakasih atas semuanya Capt, aku menemukan keluargaku kembali bersama kalian.." sambung Nida sambil melesat cepat ke arah kursi kontrol INHART.

"Nida jangaaaaannn...!!" teriak Dhay, yang langsung dihalangi oleh Reno.

"Jangan Capt, lo masih dibutuhkan disini.." sahut Reno sambil tetap memeluk Dhay yang berusaha mencoba mengejar Nida.

"Nidaaaaaa...!!"
-----
Tiba-tiba...
Byuuuuuuurrrrr....

"Nida..Nida..cewek mane lagi tuh, ud siang neh. Dari tadi dibangunin suseh amat lo, mentang-mentang libur, bangun siang mulu..." teriak seorang wanita setengah baya sambil di tangan memegang sebuah ciduk air yang sudah kosong, "cepetan bangun Dayat, katenye lo mau benerin genteng, mumpung ari lagi terang banget neh..!!" sambung wanita itu kembali sambil keluar dari kamar.

Sementara itu seorang pemuda tanggung masih terbengong-bengong sambil melongo ditempat tidurnya dengan muka yang basah kuyup akibat guyuran air dari sang ibu.

"Brigade 0812 Black Eagle...Nida...Dhay...Dhay...at...Dhayat...Dayat...Dayat..." pikirnya sambil masih melongo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar